Muqaddimah

Jauh sebelum mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (26 Februari 1967), Mohammad Natsir sudah dikenal sebagai seorang tokoh pendidikan. Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung pada tahun 1932-1942 dan Sekolah Tinggi Islam (STI, kini UII Yogyakarta) adalah contoh nyata kiprah dan jejak Pak Natsir dalam dunia pendidikan. Di samping itu, banyak juga warisan intelektual yang beliau tinggalkan melalui tulisan-tulisan yang membahas tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

 

Pendidikan menjadi perhatian Pak Natsir. Ia berkeyakinan bahwa maju mundurnya suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kualitas pendidikannya. Dalam Capita Selecta beliau mengatakan: “Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa tidak bergantung kepada putih, kuning, atau hijaunya kulit seseorang. Tapi kemunduran dan kemajuan itu bergantung kepada ada atau tidaknya sifat dan bibit-bibit kesanggupan dalam suatu ummat untuk menjadikan mereka layak atau tidak menduduki tempat yang mulia di atas dunia ini. Ada atau tidaknya sifat-sifat kesanggupan itu bergantung kepada pendidikan yang diterima seseorang”. (Natsir, 2000:78).

 

Karena itu, ketika Pak Natsir mendirikan dan kemudian memimpin Dewan Da’wah (1967-1993), pendidikan menjadi salah satu bidang yang banyak diperhatikan dan ditekuninya. Namun kiprah Pak Natsir dan Dewan Da’wah dalam bidang pendidikan, sebagaimana juga dalam beberapa bidang lainnya lebih banyak berpola “pembangkit listrik”.

 

Pola seperti ini dilandasi oleh prinsip bahwa Dewan Da’wah tidak akan mengerjakan apa yang sudah dikerjakan oleh pihak lain. Karena itu dalam bidang pendidikan, Dewan Da’wah tidak mendirikan lembaga pendidikan Islam karena hal itu sudah banyak dikerjakan oleh Muhammadiyah, NU dan lembaga-lembaga Islam lainnya. Dewan Da’wah lebih banyak melakukan program penguatan dalam bidang pendidikan Islam yang pelaksanaannya bekerja sama dengan pihak-pihak yang sudah lebih dahulu berkecimpung di dalam dunia pendidikan.

Inna az-zaman qad istadara

 

Musim telah berganti tantangan zaman pun berubah. “Virus sipilis” (sekularisme, plurarisme, liberalisme) dan penyebaran paham-paham sesat dan menyesatkan telah secara sistematis menyasar lembaga-lembaga pendidikan Islam bersamaan dengan menjamurnya sekolah-sekolah full day, sekolah “terpadu” dan yang sejenisnya.

 

Menyadari hal tersebut, Dewan Da’wah berpandangan bahwa da’wah dalam dunia pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat urgen dan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya membentengi dan menyelamatkan aqidah ummat (baca: bina-an wa difa-‘an). Maka kontribusi Dewan Da’wah dalam bidang pendidikan hari ini tidak saja dituntut sebagai “mesin penggerak” atau “generator”, akan tetapi harus menjadi “pemain utama” yang mampu menyelenggarakan model pendidikan sendiri.

 

Segmen da’wah dalam dunia pendidikan yang digarap oleh Dewan Da’wah diharapkan mampu mempertahankan idealisme pendidikan Islam; menanamkan nilai-nilai Islam secara paripurna yang bersih dari pemikiran yang sesat dan menyesatkan, pemikiran sekuler dan liberal menuju kepada hakikat dari tujuan pendidikan Islam itu sendiri yaitu menjadi hamba yang sebenar-benar hamba di hadapan Allah Ta’ala. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

INFO PPDB?
Chat dengan call center